Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH, Merayakan Keseharian

Mengawas USM

Salah satu hal paling menyenangkan dari engkau menjadi guru adalah kau duduk saja tapi dianggap mengerjakan tugas mulia😄😅.  

Memang menyedihkan kalau kau bekerja di saat seharusnya libur. Hanya kalau selama pekerjaan itu adalah mengawas anak-anak yang sementara mengikuti tes (di sini anak-anak mengikuti USM UPH), maka mari. Saya siap. 

Iklan
Cuplikan Cerita UPH, God's Story, Refleksi

Menonton “When the fashion model met the designer – Sydney – talk” di YouTube

Awalnya saya hanya buka youtube dengan maksud ingin melanjutkan tontonan kemarin tentang reformasi. Ternyata dari beberapa video yang nongol ada tertulis nama Tracy Trinita.

Nama ini tidak asing. Sebab beliau adalah salah satu dosen semasa kami kuliah di Teachers College UPH Lippo Karawaci. Beliau seorang dosen teologi waktu itu.

Semula ketika baru pertama kali beliau bergabung di Teachers College, kakak-kakak angkatan dan beberapa kawan heboh. Mereka seperti melihat dewi dari khayangan turun ke bumi. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja. Toh, bukankah orang-orang di UPH itu rata-rata begitu perawakannya.

Ternyata, bukan itu yang mereka hebohkan. Bukan perawakannya yang tinggi atau cantik wajahnya yang membuat mereka heboh luar biasa. Ini tentang latar belakangnya.

Apa latar belakangnya, saya tanya. Model, kata mereka. Oh, memangnya kenapa kalau model. Saya memang kuper kalau tentang yang begituan. Kau tidak tahu? itu modelbukan model biasa. Sudah model internasional kali dia itu. Model berkelas. Sudah melanglang buana jadi model di NY dan Paris sana. Dan sekarang, dia jadi dosen kita di TC. Dosen teologi. Bayangkan, seorang model internasional jadi dosen teologi.

Saya manggut-manggut walau tak bisa ikut terpesona dengan berita yang saya dengar. Mungkin karena walau namanya mentereng, saya yang memang kurang mengenal. Ya, iyalah…memangnya sejak kapan saya tertarik melihat wajah model-model. Kalaupun mungkin wajahnya pernah nongol di majalah remaja contohnya Aneka Yes yang dulu sewaktu SMA sempat beberapa kali saya beli, saya pasti tak memperhatikan karena memang lebih tertarik dengan cerita-cerita di dalam majalah itu.

Singkat cerita, beliau memang sempat beberapa lama berada bersama kami di TC UPH. Beliau memang tidak mengajar di kelas saya tepatnya, tapi beliau sering ada bersama kami dalam beberapa kegiatan terutama yang berkaitan dengan kelas teologi. Beliau berbaur bersama kami para mahasiswa untuk berdiskusi. Kerendahan hatinya dan semangatnya berbagi terpancar dari wajah dan setiap gerak-geriknya. Saya waktu itu nyaris tak percaya kalau beliau pernah menjadi model internasional.

Saya sempat penasaran dan ingin mencari tahu bagaimana bisa beliau yang sudah menjadi model keren beken itu bisa memutuskan belajar teologi lantas menjadi penginjil dan pengajar. Tapi rasa penasaran saya hanya sampai di situ dan tidak saya lanjutkan dengan mencari tahu.

Baru malam ini, kurang lebih tujuh atau delapan tahun kemudian, tanpa sengaja nongol namanya di tampilan lembar pertama youtube yang saya buka. Baru pertama kali inilah saya dengar kesaksiannya tentang alasan ia berpindah haluan dari seorang model keren beken di jagad internasional menjadi seorang penginjil.

Walau terlambat, saya bersyukur baru malam ini saya mendengar kesaksiannya. Sebab dengan inilah saya bisa mengerti betul bagaimana pergumulannya dan mendukung dan mengagumi keputusannya. Sebuah keputusan besar dan memang teramat penting dalam kehidupan manusia.

Beberapa hari lalu, saya baru (walau sudah lama dan berulang-ulang saya diperdengarkan) disingkap tentang apa yang paling penting dalam hidup dan apa yang adalah sampah di dunia. Ternyata selama ini saya terlalu larut dalam kebodohan saya namun anehnya saya malah bangga. Kau tahu, saya bergetar ketika mendapati hal ini. Saya merinding. Sebab apa? Sebab saya tahu, sedikit lagi saja, pasti saya jatuh ke lubang yang paling kelam. Sujud syukur, Tuhan menangkap saya sebelum terlanjur jatuh. Sungguh, Tuhan luar biasa. Tuhan maha besar. Terpujilah Nama-Nya.

 🙏😇😊

Cuplikan Cerita UPH

Percakapan Tak Sengaja

dialogue
Sumber ilustrasi: indiesunlimited

“Kau sadar tidak, ini tahun 2017?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Sudah 10 tahun sejak hari pertama kita menjejakkan kaki di UPH.”

Rili tersentak. Kenapa ini tak sempat terpikirkan sebelumnya?

“Apa ada sesuatu yang kau rencanakan?”

“Tidak. Saya hanya tiba-tiba mengingatnya.”

“Kau justru memantikku harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang kau mau kau buat?”

“Sesuatu. Mungkin sangat kecil artinya atau bahkan tak ada artinya.”

“Apa itu, boleh kutahu?”

“Akan kutunjukan kalau sudah selesai.”

“Kau membuatku penasaran.”

“Tak perlu. Kalau tak keberatan, kau mungkin sesekali bisa kuminta tolong.”

“Dengan senang hati. Kapan?”

“Akan kuberitahu.”

Keduanya berpisah beberapa menit kemudian. Sepanjang jalan pulang Rili terus merenung. Ia bahkan tak bisa tidur malam harinya. Kantuk rasanya sudah menguasainya. Anehnya, pikirannya melayang ke mana-mana. Beracakkan menyusuri lorong-lorong waktu yang dilalui. Percakapan dengan kawannya tadi terus mengusik pikiran. Kepalanya terus digerayangi suara, barang apakah yang berarti yang dapat kuberikan? Harinya semakin mendekat, apakah ia hanya berdiam diri sementara tempat itu begitu banyak melimpahinya dengan berbagai hal? Sudah terlalu banyak anugerah bagimu. Apakah hanya akan kau sia-siakan?

Terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, ia pun mengambil pena dan buku kecilnya. Membuat list. Sebelum melakukan sesuatu, kau harus mengecek kembali motivasimu. Kenapa kau mau melakukannya dan untuk apa? Tepatkah kau melakukan itu? Perlukah? Apa dampaknya? Ujilah kembali. Kalimat-kalimat itu digemakannya berulang-ulang.

Kalau salah niatmu, maka lebih baik tidak usah kau bekerja. Tidak usah memulai. Daripada hanya mempermalukan diri dan menjadi batu sandungan.

Kalau niatmu sudah baik, sudah murni, maka mulailah. Ingat, kalau kau sudah memutuskan memulai, maka kerjakan, dan jangan takut. Tapi kalau kau takut, sudahlah, tidak usah kerjakan. Duduk diam berpangkutangan saja. Terlenalah dalam kenyamananmu. Tak usah kau pusing-pusing memeras otak, menguras tenaga, mencucurkan keringat dan air mata demi mencari ide hingga berlelah-lelah.

Tenang, dan bersantai sajalah.

Kalau mau mengenang, maka masuklah dalam kamarmu. Berdoalah dalam diam. Berdoalah buat orang-orang di sana. Biar kerja mereka semakin baik. Biar performa mereka semakin keren. Kau tahu, berdoa bukan pasif. Ia mampu memberi sesuatu dan memahatkan kekekalan dalam diri orang-orang lain. Kelak ada orang-orang lebih keren muncul. Bapamu di surga mendengar.

Baiklah begitu. Daripada kau melakukan sesuatu dan akan menjadi sesuatu yang tak bernilai. Betul. Kenapa perlu? Sementara teman yang mengingatkan tadi saja tak berencana apa-apa. Kenapa aku harus kalau begitu? Ia mendebat dirinya sendiri.

Ia tahu dan sadar-sesadar-sesadarnya, ia tak punya apa-apa yang besar untuk diberi. Gaji bulanannya pas-pasan untuk keperluan hidupnya sendiri dan tiga  orang adiknya yang sedang berkuliah. Kredit rumahnya sendiripun masih menuntut perhatian. Belum lagi hal-hal tetek bengek dan remeh temeh lainnya.

Sudah mencoret-coret, tapi belum juga muncul ide untuk menulis list yang dimaksud.

Ah, kenapa jadi pusing dan kepikiran begini? Apakah salah kalau kau bersikap biasa dan cuek? Ia kembali merutuki dirinya.

Ya, memang salah. Ada yang salah. Dan itu tetap salah. Kau diperkaya. Kau kaya dan kau tak berterima kasih. Padahal itu adalah satu caramu kalau bukan satu-satunya caramu berterima kasih.  Kau bisa dan kau tak melakukannya, itu jelas sebuah kesalahan. Kalau di orang lain memang bukan, tapi kalau di kau, jelas itu salah. Sebuah kesalahan yang tak termaafkan.

Jangan terus menuduhku. Jangan memojokanku. Kalaupun mau kuberikan sesuatu, itu bukan atas tuduhan rasa bersalah, kau tahu itu.  Aku mau memberi sesuatu sebab dalam diriku ada dorongan yang lembut, teramat sangat lembut dan penuh ingin, mendorongku melakukannya. Aku memberikan sebab aku memang ingin memberikan. Aku melakukannya sebab aku memang ingin melakukannya.

Cuplikan Cerita UPH

Kabar diterima di UPH Teachers College

congratulations_acceptance_packet
Sumber: www.cooley.edu

Siang itu, 11 April 2007. Aku sementara berjalan menyusuri aspal sepulang sekolah. Bersama beberapa kawan sekampung menuju tempat kami biasanya menunggu bemo. Kami tak langsung menunggu bemo di jalan cabang masuk sekolah. Kami justru lebih suka menjemput ke arah utara, ke arah datangnya bemo. Tempat itu adalah bekas poskamling dulu. Di sampingnya tumbuh sebatang pohon asam yang besar dan berdaun rimbun. Pada musimnya berbuah, kami biasanya membawa gula pasir atau membeli gula lempeng untuk membuat manisan sambil menunggu datangnya bemo.

Pada rambut dan sekujur tubuhku masih menempel sisa-sisa terigu bercampur telur busuk dan air comberan. Baunya sungguh menjijikkan. Andai saja aku dapat mandi lebih dahulu dan berganti pakaian sebelum keluar menunggu bemo untuk pulang ke rumah. Ada seorang kawan baik yang sudah menawariku mandi di rumahnya dan katanya boleh mengenakan pakaiannya. Aku mau sebenarnya. Tapi kalau begitu kapan aku selesai mandi dan berganti pakaian sementara teman-teman sekampungku sudah lebih dahulu ke jalan raya menunggu bemo. Aku tak mau ditinggal sendiri. Mungkin kawanku bisa menemani menunggu bemo berikutnya. Masalahanya bisa-bisa sudah maghrib baru aku tiba di rumah.

Maka itulah, sambil menuju ‘halte’ kami, aku mengais-ngais sisa-sisa campuran terigu dan telur busuk dari rambut dan badanku.

Sebelumnya di sekolah, aku sudah mengumpat teman-temanku habis-habisan. Aku sudah mewanti-wanti mereka sejak jauh-jauh hari. Tak boleh aku diperlakukan sebagaimana mereka biasanya memperlakukan setiap anak yang berulangtahun. Aku protes keras ketika mendengar ada desas-desus bahwa akupun akan diperlakukan sama seperti teman-teman lain. Kuingatkan mereka, selama ini pun aku tak pernah setuju dan tak pernah bergabung dengan mereka tatkala mereka berembuk dan menyiram kawan yang berlang tahun dengan campuran terigu, telur busuk, ditambah air comberan.

Menanggapi peringatanku, mereka manggut-manggut. Aku sempat melihat mereka saling melirik dan tertawa cekikan. Mereka pasti sudah bersekongkol. Kubiarkan mereka. Seusai apel siang, aku berniat cepat-cepat keluar dari barisan. Tak kusangka aku kalah cepat dari komplotan mereka. Segera saja aku disiram di tengah lapangan. Anak-anak yang baru bubar dari barisan tentu saja segera tahu aku berulang tahun. Beberapa di antaranya segera datang menyalami. Walau dongkol, tetap saja aku mesti meladeni mereka. Kawan-kawanku yang bersekongkol itu bersorak senang penuh kemenangan.

Katanya, itu hadiah dan kenangan dari mereka. Ini sudah kelas akhir SMA. Sebentar lagi pisah. Kenangan apalagi yang bisa diciptakan untuk saling mengingat satu sama lain. Tak peduli AKU pernah terlibat atau tidak dalam aksi siram-siraman terigu dan telur busuk kepada teman lain. Mendengar ungkapan mereka, aku tak menanggapi lagi. Toh, semua sudah terjadi.

  1. Di jalan sambil menarik-narik sisa-sisa gumpalan terigu di rambut itulah terdengar ponsel yang kusimpan di dalam tas berdering. Sebuah telepon masuk dari nomor baru. Bukan nomor area Kupang.

“Selamat siang. Apa betul ini dengan Anice?” Nada suara itu terdengar bukan seperti orang Kupang.

Aku pun mengiyakan setelah kupastikan diriku tenang ketika menjawab.

“Baiklah, Anice. Ini kami dari UPH Teachers College. Kami sudah memeriksa berkas-berkasmu. Hasil wawancaramu juga sudah kami pelajari,” jelas suara di seberang. “Keputusannya,” suara itu terhenti sebentar. “Selamat, Anice. Kau diterima bergabung di UPH Teachers College.”

Segala kedongkolan dan umpatan tak terucap hari itu karena siraman terigu campur telur busuk dengan air comberan sekejap sirna. Telah tergantikan oleh kabar yang telah lama dinanti-nantikan. Mulutku sampai bergetar mengucapkan terima kasih sebelum telepon di seberang sana ditutup. Aku tak dapat menahan diri. Mataku berasa panas. Bergulir air mataku menuruni pipi. Setelah hampir lima bulan statusku berada dalam daftar tunggu atau yang mereka istilahkan dengan waiting list akhirnya di hari istimewaku diberi kepastian. Mimpiku beberapa malam lalu berada satu pesawat dengan Ibu Ani Yudhoyono, istri presiden RI kala itu, pelan-pelan mulai tersingkap. 😀 🙂

Tokoh Idola

Dua Aktor Idola

Kalau saya ditanya–walau mungkin saja tak akan pernah ada orang yang mau bertanya tentang hal ini–Siapa aktor idola anda, aktor Indonesia maksudnya? Maka akan saya jawab, “Sejak kecil, aktor Indonesia yang saya idolakan hanya dua orang. Christian Sugiono dan Nicholas Saputra.” Kebetulan juga ba’i* kandung saya dari pihak bapak namanya Kristian, plus ipar sulungnya bernama Nikolas.

2799960572_1a8f67e2e520150813_151811

Pertama kali melihat kedua aktor ini, saya seperti kena setrum tiba-tiba. Saya biasa lebih dulu mengetahui nama dan foto mereka pertama kali halaman koran yang meliput khusus tentang selebriti, barulah di tivi ketika tampang orang itu terlihat barulah saya ingat, oh ini orang yang pernah saya lihat di koran.

Aktor pertama, karena ketika pertama lihat fotonya, saya langsung menyukai lesung pipinya dan matanya yang keren–karena saya pun meyakini saya punya lesung pipi dan mata yang mirip dengannya. Aktor kedua karena saya suka rambut ikalnya, karena rambut saya pun ikal yang mirip-mirip. Aktor kedua ini pun mendapat porsi lebih karena perannya di film AADC itulah, ia serupa sosok misterius dengan tatap matanya yang seolah tersimpan sebuah kelam 🙂

Di kemudian hari, bertahun-tahun mengidolakan mereka, saya pun terbawa saja–yang saya percayai atas pimpinan Tuhan–akhirnya bisa bertemu langsung dengan mereka. Baru saya dapati tak tahunya ternyata dua orang ini punya kemiripan.  Ternyata selain di dunia entertain mereka juga entah terseret entah memang juga punya minat di situ, rupanya kedua orang ini ada keterkaitannya dengan dunia tulis-menulis–begitulah saya menyebutnya, selain di kemudian hari ternyata kawan main peran sang aktor kedua di AADC menjadi istri aktor pertama.

Aktor pertama, CS saya melihatnya pertama kali di UPH, Lippo Karawaci. Waktu itu Festival Penerimaan Mahasiswa Baru (welcoming new students)–tahun berapa saya agak lupa. Dia salah seorang narasumber dalam satu diskusi. Topik diskusinya benarnya saya agak lupa. Hanya seingat saya ia menyebut-nyebut tentang ‘wikipedia’. Kalau tak salah ia sempat mengatakan ia bekerja di Wikipedia atau seorang penulis lepas atau kontributor atau apalah istilahnya di Wikipedia–ternyata setelah mencoba mengecek di internet, barulah saya dapat info jelasnya CS waktu itu adalah duta Wikipedia Indonesia.

2802557198_7fbcf88501

Diskusi itu berlangsung di Cafe of Art UPH yang satu gedung dengan kantin kampus, Food Junction. Jadi tak sengaja waktu saya dan kawan saya pergi mengambil makan siang, tepat di lantai dasar ketika melewati Cafe of Art, saya melihat ada deretan kursi tersusun rapi dan beberapa orang sementara duduk menyimak. Ketika saya menoleh ke arah panggung, baru saya tahu. Ada CS ternyata di sana.

Keberadaanya memang tak begitu menarik perhatian, sebab di samping kiri kanan panggung, banyak berlalu-lalang para mahasiswa yang keluar masuk kantin. Selain mungkin karena tampang para aktor/aktris di sini tak beda-beda jauh dengan para mahasiswanya, dan banyak sudah para mereka (pekerja seni) yang juga adalah bagian dari kampus ini, atau juga sering diundang manggung di sini. Jelaslah kedatangan CS itupun menjadi sesuatu yang biasa, membuat saya yang awalnya sumringah mengetahui keberadaannya di kampus pun ikutan merasa biasa.

2801664351_8858eb951e

Pada kawan, saya berbisik, “Itu aktor idola saya dulu.”

Ia tertawa sebentar, “Terus, sekarang tidak lagi?”

Tanggapannya saya sambut dengan ketawa pula.

Sang kawan saya ajak ikut berdiri sebentar mendengarkan kira-kira apa yang sedang ia bicarakan. Sebentar saja kawan saya sudah bosan karena itu tentang menulis. Ia memang tak begitu tertarik dengan dunia-menulis.

Ia mengajak lanjut mengambil makan siang yang saya tangguhkan, “Duluan saja, saya belum lapar. Nanti baru saya nyusul.” Padahal sebenarnya perut saya pun sementara keroncongan.

Ketika kawan saya naik ke lantai atas–tempat makanan kami ada di lantai atas–saya segera mencari tempat duduk untuk ikut mendengarkan pemaparannya tentang penulisan di wikipedia. Diskusi itu di ruangan terbuka sehingga siapa saja bisa mengikutinya. Kebetulan juga peserta yang mendengarkan pemaparannya tidaklah banyak. Banyak kursi yang tak diduduki.

Saya mengikuti sampai selesai. Bahkan sampai sesi tanya jawab walau sekarang kalau kau tanyakan pada saya apa materinya dan apa-apa saja yang didiskusikan jelas saja saya sudah lupa, karena waktu itu mungkin saya lebih fokus pada lesung pipi sang aktor, cara ia menatap para audience, dan ternyata suaranya juga bukan main kerennya. 😀

Hanya begitu saja kisah pertemuan saya dengan aktor idola pertama. Dia berbicara di atas panggung sana dan saya hanya seorang mahasiswi semester awal-awal yang tidak populer sama sekali, yang duduk di bangku peserta sambil mengagumi dari jauh. Dalam hati saya salut benar. Betapa keren ia yang sudah tampangnya rupawan juga mau terjun di dunia tulis-menulis. Pikir selama ini para artis hanya mengandalkan tampang fisik. Dan ini, sudah bertampang keren, pintar pula. Entahlah terserah apa yang kau pikir, tapi pintar versi saya adalah mereka yang ikut ambil bagian dalam dunia tulis-menulis. Entah terlibat langsung atau sebagai apresiator.

Waktu itu, sebagai mahasiswa kere yang tak punya HP kamera jelas saja tak ada fotonya yang sempat saya abadikan (Sumber foto CS dalam tulisan ini pun baru saya ambil dari sini, sepertinya diupload anak UPH juga yang waktu itu hadir). Saya hanya mengamati dari jauh ketika mereka foto bersama narasumber dan moderator atau MC. Tak ada yang heboh di antara para peserta diskusi meminta foto. Tak ada sama sekali.

Usai sesi foto, ditemani beberapa orang mungkin panitia festival, CS menikmati makanannya di kantin kampus lantai dasar. Melihat mereka makan, saya pun segera naik ke lantai atas mengambil ransum makan siang saya.

Berbeda dengan aktor pertama, kali ini pertemuan dengan aktor kedua justru meninggalkan kesan tersendiri. 😉 🙂 Pertemuan kami bukanlah di area kampus elite nan mentereng yang menjadikan keberadaannya tampak biasa di antara seribu rupa manusia yang mirip-mirip. Kali ini pertemuannya dibungkus sabana yang membentang luas dan pemandangan yang serba lepas. Sumba, NTT.

Feel-nya beda,” komentar seorang kawan saat mendengar cuplikan cerita pengalaman saya selang beberapa hari kemudian ketika kembali ke Kupang.  “Dibanding UPH.”

Pertemuan ini pun masih berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Waktu itu sungguh saya merasa terhormat diberi kepercayaan dari kawan-kawan Komunitas Sastra Dusun Flobamora  (Dunia Sunyi Flores Sumba/Sabu Timor/Rote Alor) di Kupang membawakan workshop menulis cerita pendek pada satu kegiatan yang diselenggarakan satu lembaga, Arts for Women Indonesia yang ketuanya adalah kawan baik dari sang aktor.

img_20150816_190941

Semula saya tak berpikir bahwa akan ada aktor itu di sana. Jadi saya dengan santai dan tenang mengerjakan bagian saya. Sampai menjelang usai kegiatan, ketika dengan beberapa kawan di samping saya yang sementara memilah-milah karangan terbaik hasil workshop, dan saya mengangkat kepala sekadar untuk menarik napas. Ketika melihat ke arah pintu masuk, ada saya lihat satu sosok dengan tampang yang berbeda sendiri dari yang lain. Ia sementara duduk tegak menyamping dari arah pandang saya sambil mengobrol dengan beberapa orang di sana. Saya sempat berpikir sebentar mengingat-ingat siapakah gerangan orang tersebut, sebelum akhirnya saya lalu tercekat tiba-tiba. Omg, itu kan sang aktor idola. Saya seketika itu seperti lupa bagaimana cara bernapas.

Kawan-kawan yang duduk berdekatan dengan saya sampai kaget dengan ekspresi saya yang tak mereka duga sebelumnya. Kata mereka setelahnya, “Kau di kelas tampak begitu berwibawa sampai datang orang itu, Anaci.”

Ah, biarlah. 😀

Namanya juga didatangi tiba-tiba aktor idola. Sebenarnya semalam sebelumnya saya sempat mendengar bisik-bisik bahwa sang aktor akan datang. Tapi, yah, namanya kebiasaan saya kalau mendengar sesuatu yang sambil lalu, saya tidak pernah menaruh perhatian khusus. Jadi bisik-bisik yang sambil lalu sama sekali tak tersimpan di kepala. Tak ada pikiran saya sampai ke sana tentang sang aktor. Sudah. Titik. Semua berjalan baik di kelas sampai ketika setelah beberapa lama menunduk membaca beberapa cerpen karya kawan-kawan dan saya mengangkat kepala sebentar untuk sekadar mengambil napas itulah.

Selanjutnya oleh kawan-kawan saya yang baik hati lagi pengertian itu, saya ditepuk-tepuk pundaknya untuk kembali fokus kepada tugas saya yang belum selesai. Memilah karangan-karangan terbaik untuk diberikan cenderamata.

Seusai acara pemberian cenderamata. Oleh sang pemimpin penyelenggara kegiatan, sang aktor dipanggil dan dipersilakan membacakan salah satu cerpen yang ia pilih sendiri berlatar sabana dari buku kumpulan cerpen “Hari-hari Salamander” bagi peserta workshop–ingat, bagi peserta workshop, bukan pemateri ;). Waktu ia membaca, barulah saya tahu satu hal lagi tambahan, suaranya. Amboi, suaranya. Saya serupa mendengar suara malaikat utusan Tuhan yang begitu indah di telinga saya. Saya tak lagi hanya fokus pada rambut ikalnya seperti sewaktu saya melihatnya pertama kali. Kali ini level–begitu kata kawan saya seorang penulis juga–sang aktor meningkat. Tampakan dirinya dari jauh juga suaranya. Sayang sekali saking terpukaunya, saya lupa kalau harus merekam suaranya sewaktu membaca cerpen itu. Sayang sekali.

13112883_10206365846038807_3439331675290002765_o

Selesai ia membaca cerpen ia kembali ke kawan kami sang ketua penyelenggara kegiatan duduk. Saya kembali mengobrol dengan beberapa peserta workshop tentang cerpen-cerpen hasil karya mereka tadi. Tiba-tiba saya melihat kawan kami itu tangannya melambai ke arah saya sambil suaranya memanggil, “Anaci, sini.”

Segera saya hentikan obrolan kami, lalu beranjak ke arah mereka.

Saya tersenyum gugup.

“Nih, kenalin, Anaci, yang bawain workshop cerpen tadi,” kata kawan kami sang ketua penyelenggara kegiatan tersebut dengan santai.

Saya justru yang tidak santai.

“Oh, begitu.. Niko,” ia tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Anaci,” saya menyambut tangannya dengan gugup. Saya tak yakin suara saya terdengar.

Diam sejenak setelahnya.

Mungkin kawan kami menangkap kegugupan saya, “Nah, Anaci, ceritain dong sama ka’ Niko, kamu dari mana, dari komunitas apa, bikin kegiatan apa-apa aja di sana.”

Waduh. Saya meringis dalam hati.

Sementara saya tak yakin suara saya akan terdengar normal.

Tapi karena menyadari ia sedang dalam sikap memandang saya seolah menunggu, saya pun mengeluarkan suara. Berusaha keras menunjukan ekspresi tenang dengan suara yang normal. Saya mengenalkan sedikit tentang Dusun Flobamora yang baru saja dengan dukungan Salihara menyelenggarakan festival sastra perdananya di Kupang, Festival Sastra Santarang. Seperti biasa ketika berinteraksi, dengan siapa pun saya akan melihat ke arah lawan bicara, dan tepat saat yang sama ia memang juga memang demikian. Dan astaga… lagi-lagi saya tercekat. Matanya yang dulu saya bilang kelam itu justru memikat sekali.  Di sini saya seperti melihat mata Tuhan. Mata Tuhan yang memandang dengan lembut, yang membuat sesuatu berpendar dalam diri saya.

Syukurlah, tak berapa lama momen itu, tiba-tiba datang beberapa peserta workshop meminta mengambil gambar bersamanya. Demikian disudahilah sedikit perbincangan yang saya sendiri pun seperti tidak sadar apa saja kalimat-kalimat yang sudah meluncur keluar dari mulut saya. Karena orang-orang memang sedang minta foto bersama, demikian saya pun dapat foto yang berdua.

img_20150821_203537
Salah satu foto di hari selanjutnya 🙂

Demikianlah kisah pertemuan dengan aktor kedua di hari pertama selesai.

(Bersambung) – cerita sambungannya adalah pada hari kedua dan hari ketiga inilah yang membuat saya seperti berasa kelu…  😉 :v 😀

Catatan:

* kakek

Esai, Lomba

The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci: Peduli Warisan Budaya Daerah sekalipun Berskala Global Campus

johannes-oentoro-library-uph-3-large
Sumber: http://noesis.co.id

Oleh: Anaci Tnunay*

Suatu kali di awal masa kuliah tahun 2007, di The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya melihat Indonesian Heritage, yakni ensiklopedi yang memuat berbagai macam informasi mengenai seluk beluk negara dan bangsa Indonesia. Ensiklopedi terbitan Archipelago Press Singapura yang dalam edisi bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Warisan Indonesia ini dikemas dalam 10 jilid. Judul tiap jilidnya antara lain Sejarah Awal, Manusia dan Lingkungan, Sejarah Modern Awal, Tetumbuhan, Margasatwa, Arsitektur, Seni Rupa, Seni Pertunjukan, Agama dan Upacara, serta Bahasa dan Sastra. Tak hanya itu, pada bagian lain saya juga menemukan kumpulan tulisan dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia yang disusun Koentjoroningrat. Dari buku-buku itulah saya mengenal dan menganggumi keindahan kebudayan Indonesia, yang beragam dan unik, yang tersebar dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua.

203832881_ae4aea6bca
Sumber: uph

Buku-buku tersebut hanya memuat sedikit dari begitu banyaknya kebudayaan daerah di Indonesia, namun dapat membuat saya tak berhenti mengagumi kekreatifan orang-orang terdahulu. Mereka dapat menciptakan karya seni yang indah serta menetapkan aturan-aturan yang kemudian menjadi adat istiadat di daerah masing-masing, – tentunya ini di luar sumber daya alam yang telah tersedia. Tapi itulah kenyataannya, bahwa pada tiap daerah yang mana masih lagi terdiri dari berbagai suku, masing-masing mempunyai lagu, tarian, hasil seni rupa, kepercayan, bahasa, cerita rakyat dan adat istiadat yang berbeda. Dan ketika tiap kebudayaan daerah tersebut diperkenalkan, kita akan berdecak kagum bahwa betapa luar biasanya kebudayaan bangsa Indonesia. Berangkat dari sinilah timbul rasa bangga dalam diri saya sebagai bagian dari Indonesia.

Contoh pengalaman di atas, saya kira telah menggambarkan peran sebuah perpustakaan dalam pelestarian kebudayaan lokal. Sebagaimana yang diungkapkan Basuki (1993, hal. 11) bahwa perpustakaan memiliki fungsi kultural, yakni sebagai wahana pelestarian khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan bacaan, seminar, pameran atau penyelenggaraan kegiatan yang sesuai.

Dengan adanya bahan bacaan seperti buku-buku, ensiklopedi, koran, serta terbitan berseri (majalah, buletin, warta, jurnal, newsletter, warkat warta, risalah laporan tahunan, bulanan, mingguan) mengenai sejarah dan kebudayaan daerah di Indonesia ataupun penyelenggaraan kegiatan yang sesuai, para pengguna perpustakaan dapat mengenal lebih dekat tentang warisan kebudayaan daerahnya sendiri dan atau kebudayaan daerah lain dalam kawasan nusantara. Hingga pada gilirannya, mampu menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap kebudayan daerah sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia.

perpus-fk
Sumber: library.uph.edu

Dalam menyediakan bahan bacaan ataupun menyelenggarakan kegiatan berkaitan dengan kebudayan daerah, tidak hanya oleh perpustakaan nasional atau perpustakaan umum atau perpustakaan daerah, melainkan semua jenis perpustakaan termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Sebab selain perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian dari perpustakaan, yang perannya adalah ikut menentukan dan mempengaruhi tercapainya tujuan kultural perpustakaan, para pengguna perpustakaan perguruan tinggi juga adalah orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang budaya berbeda, apalagi jika perguruan tinggi tersebut adalah perguruan tinggi berskala global campus.

Justru perguruan tinggi seperti inilah yang dituntut tetap ikut berkontrubusi dalam pelestarian kebudayaan daerah Indonesia. Misalnya selain menyediakan bahan bacaan dalam bentuk karya cetak, perlu juga mengadakan seminar, pameran atau kegiatan-kegiatan tertentu berkaitan dengan kebudayaan daerah di Indonesia.

Mengapa demikian?

Sebab, perguruan tinggi berskala global campus adalah perguruan tinggi yang dalam proses pelaksanaan pendidikannya, lebih banyak berkenaan dengan segala hal berbau global. Dikuatirkan mahasiswa sebagai generasi muda akan mengabaikan segala hal berbau lokal. Mungkin masih lebih baik dikatakan mengabaikan. Bagaimana jadinya kalau sampai mahasiswa membenci bahkan memandang remeh budaya-budaya lokal di Indonesia, dan malah sebaliknya mengagungkan globalisasi yang adalah cita-cita perguruan tinggi tempat mereka belajar?

Mencegah jangan sampai kemungkinan itu terjadi, budaya global dan budaya lokal mestilah berjalan seimbang. Memang sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi mutlak membuka diri terhadap perubahan dunia dan dituntut berpikir global. Kendati demikian perguruan tinggi tidak boleh melepaskan diri dari akar kebudayaan lokal.

Mengutip berita dari website UGM (2010), Dr. Wening Udasmoro, MHum, DEA., dalam seminar yang bertajuk Membangun Sinergi Lokal Global dengan Berpijak pada Warisan Budaya di Jogjakarta mengatakan “Lokalitas dan globalitas, keduanya berguna untuk menjawab kebutuhan manusia”.

Meresponi pandangan tersebut, maka dalam tugasnya menunjang cita-cita dan visi perguruan tinggi, perpustakaan tersebut tidak boleh hanya menyediakan bahan bacaan mengenai kebudayaan masyarakat luar negeri atau teknologi industri dunia global, menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri, mengadakan Inter Library Loan, memiliki langganan online database dari berbagai disiplin ilmu, menggunakan security system yang canggih, menyediakan fasilitas belajar yang lengkap dan selalu berfungsi optimal, memberi pelayanan sirkulasi peminjaman buku dengan sistem komputerisasi, menggunakan katalog dalam pencarian buku. Namun perpustakaan juga harus tetap melaksanakan fungsi kulturalnya.

Seperti halnya yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH, selain menyediakan bahan bacaan tentang kebudayaan daerah Indonesia, juga menekankan kebudayaan lokal dalam tema Perpustakaan dan Kebudayaan pada Library Annual Event (LIBANEV) tahun 2011. Penekanan ini terlihat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

dscn1900
Sumber: library.uph.edu
5656601731_a79a38c7e3
Sumber:The Johannes Oentoro Library

Penyelenggaraan kegiatan tersebut di antaranya pameran batik Banten, seminar batik Indonesia dan batik Banten, kompetesi menulis kreatif tentang Peran Perpustakaan dalam Preservasi Kebudayaan Lokal khusus untuk mahasiswa UPH. Khusus penyelenggaraan kompetisi menulis kreatif inipun telah turut membuat para peserta yang berpartisipasi mau tak mau harus mempelajari tentang kebudayaan lokal. Proses ini secara tidak langsung telah memberi pengaruh kepada mahasiswa untuk mengenal kebudayaan lokal.

Penyelanggaraan kegiatan tersebut patut disambut gembira. Namun alangkah baik bila dalam upaya mewujudkan fungsi kulturalnya, perpustakaan perguruan tinggi semacam Johanes Oentoro Library-UPH tidak hanya terbatas pada buku non-fiksi atau ensiklopedi atau terbitan berseri kebudayaan daerah saja. Masih ada banyak bahan bacaan lain yang berguna misalnya karya-karya sastra klasik Indonesia. Hal ini patut dipertimbangkan sebab biasanya lembaga pendidikan berskala global, seperti yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH malah lebih banyak menyediakan karya sastra klasik luar negeri dibanding karya sastra klasik dalam negeri. Padahal dari karya sastra tersebut, mahasiswa sebagai pembaca setidaknya dapat mengenal budaya daerah yang diambil sebagai latar dalam cerita.

Memang tak dipungkiri bahwa koleksi perpustakaan harus mencerminkan ‘isi’ perguruan tinggi (Naibaho, 2011, np). Sehingga dalam hal ini, The Johannes Oentoro Library lebih banyak menyediakan karya sastra asing daripada karya sastra klasik dalam negeri sebab fakultas yang dimilikinya di sini adalah sastra Inggris dan bukannya sastra Indonesia. Namun bukan berarti karya sastra klasik Indonesia tidak terlalu diperlukan. Mengingat perpustakaan juga memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi, para pengguna dapat memanfaatkannya untuk membaca karya sastra sebagai ‘hiburan’.

Pengadaan bahan koleksi seperti itu, diharapkan para mahasiswa dapat mengenal lebih dekat kebudayaaan lokal di Indonesia, diikuti timbulnya rasa kagum dan bangga akan keberagaman, keunikan dan keindahannya. Sehingga pada gilirannya akan meningkat rasa cinta dan rasa penghargaan mahasiswa terhadap kebudayaan lokal tersebut.

Memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan lokal penting. Sebab keberagaman dan keunikan kebudayaan lokal inilah ciri khas kebudayaan Indonesia, yang kerapkali disebut berkontrubusi terhadap identitas bangsa. Berperan sebagai identitas bangsa, kebudayaan lokal membawa Indonesia terlihat unik serta mampu menunjukkan kepada dunia akan eksistensi bangsa Indonesia. Dalam hal ini, yang lebih diharapkan adalah mahasiswa sebagai tonggak kepemimpinan bangsa. Mereka perlu memiliki pijakan yang kuat untuk tampil dan mempertahankan keunikan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dengan menjalankan hal-hal seperti yang telah dipaparkan di atas, maka upaya The Johannes Oentoro Library-UPH dalam menunjukan kepedulian terhadap warisan kebudayaan lokal Indonesia akan terlihat lebih stabil dan konsisten. Tidak hanya sekedar melengkapi koleksi periodikal perpustakaan atau kegiatannya yang hanya terwujud di Library Annual Event tahun 2011.

Mahasiswa sebagai bagian dari Universitas Pelita Harapan, yang dalam visi-misinya menuju global campus tidak serta merta menaruh ambisi sepenuhnya kepada globalisasi lantas mengabaikan dan memandang remeh budaya lokal. Biarlah dengan berpijak pada akar budaya bangsa Indonesia, mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan mengenal dan menghargai identitas bangsanya. Sehingga dalam praktiknya di dunia kerja, ia tak kehilangan identitas melainkan dapat secara tegas menunjukan eksistensi bangsa Indonesia di tengah menderasnya arus globalisasi.

Referensi

Basuki, S. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas terbuka, Depdikbud.

Grehenson, G. (2010). Identitas Budaya Lokal Semakin Menguat. Portal Universitas Gajah Mada: Fakultas Ilmu Budaya. Diambil 17 Maret 2011 dari http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=2549

Koentjoroningrat (Red). (1995). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Naibaho, K. (2011). Perpustakaan sebagai Salah Satu Indikator Utama dalam Mendukung Universitas Bertaraf Internasional. Artikel blog staf Universitas Indonesia. Diambil 16 Maret 2011 dari https://staff.blog.ui.ac.id/clara/

Soebadyo., Ave, J., Setyawati (Red). (2002). Indonesian Heritage (Edisi bahasa Indonesia, volume 1-10). Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International, Inc.

Catatan:

*Pemenang ke-3 Kompetisi Library Annual Event (LIBANEV) UPH Karawaci 2011

*****

Library Annual Event (LibAnEv UPH) 2011_The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci

5660640542_b315f2f9ac
Sumber: JO Library UPH
5660590354_936f873ec2
Sumber: JO Library UPH

The winners of library annual event 2011 competitions

 

Esai, Lomba

Warna-warni di Teachers College UPH*

Print
Sumber: HeSheep

Senin, 15 November 2010

[KARAWACI] Mahasiswa Teachers College Universitas Pelita Harapan (TC-UPH) Karawaci kembali memeriahkan bulan bahasa tahun 2010 dengan mengadakan aneka perlombaan. Tahun ini merupakan tahun kedua TC menyelenggarakan kegiatan tersebut. Kegiatan perlombaan ini dimulai sejak Senin 8 November 2010 dan berakhir pada hari Kamis 18 November 2010 yang sekaligus merupakan puncak acara bulan bahasa 2010.

Tema bulan bahasa tahun 2010 ini adalah warna-warni Indonesia. Menurut Intan A. Sarasawati, ketua panitia bulan bahasa 2010, warna-warni tersebut menyatakan dua hal yakni talenta dan kebudayaan. Para mahasiswa TC merupakan orang-orang yang kreatif. Mereka mempunyai talenta di berbagai bidang, seperti menyanyi, menari, menggambar, merancang busana, membaca puisi, membuat pantun dan menulis. Sedangkan untuk kebudayaan, warna-warni mencerminkan mahasiswa TC berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang beragam budayanya.
“Ya, mahasiswa TC itu, dari Sabang sampai Merauke, semuanya ada. Mereka itu kreatif sekali di bidang masing-masing. Makanya di event kali ini, kita menyatukan semua warna warni yang ada, mulai dari perlombaan hingga acara puncak hari Kamis mendatang,” katanya.

Peserta lomba adalah para mahasiswa TC yang terdiri dari kelas Pendidikan Dasar Indonesia (ID1), Pendidikan Dasar Inggris (EDI), Matematika Indonesia (IMM1), Matematika Inggris (EMM1), Biologi Indonesia (IMB1), Biologi Inggris (EMB1), Sosial Indonesia (IMS1), serta Sosial Inggris (EMS1). Tiap kelas pada tiap angkatan diharapkan mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba-lomba tersebut.

Kegiatan perlombaan ini diadakan di area TC, waktunya di atas pukul 16.00 WIB sampai selesai sehingga tidak mengganggu jalannya perkuliahan. Adapun lomba-lomba tersebut meliputi sayembara gambar, debat, lip sync lagu daerah, berbalas pantun, musikalisai puisi, vokal grup lagu daerah, costplay “merah putih” dan jurnalistik. Selain lomba-lomba tersebut, ada juga satu lomba yang tidak hanya diikuti mahasiswa TC melainkan terbuka untuk semua mahasiswa UPH, yakni lomba fotografer. Sejauh ini, sudah terdapat beberapa mahasiswa dari fakultas lain yang turut berpartisipasi.

Adapun juri setiap perlombaan, selain para dosen dan staf TC, juga didatangkan dari berbagai fakultas dan departemen di UPH misalnya Fakultas Seni Musik, Faculty of Liberal Art dan Johannes Oentoro Library, bahkan khusus untuk lomba jurnalistik, salah seorang jurinya adalah jurnalis sebuah media massa nasional di Jakarta.

dsc01127
Peserta Costplay

Khusus pada hari Jumat (12/11), lomba yang diadakan adalah costplay. Dalam perlombaan tersebut, terdapat 10 peserta yang tampil gagah dan anggun menampilkan karya mereka. Aspek yang dinilai dalam costplay selain menampilkan minimal lima ornamen daerah, mesti juga dilengkapi dengan unsur merah putih. Keseluruhan kostum yang digunakan haruslah hand made kecuali kaos/kemeja atau rok/celana dan alas kaki, karena faktor itulah yang diharapkan dari lomba costplay. Walaupun hanya dengan buatan tangan, para peserta tersebut dapat menunjukan berbagai ornamen unik dan megah yang mewakili daerah-daerah di Indonesia. Satu peserta bisa memakai kebaya dan lurik dari Jawa, ornamen ondel-ondel dari Jakarta, rumbai-rumbai dan kontaif dari Papua, menyampirkan ulos dari Sumatera Utara, sarung dari Sabu, mengalungkan manik kata dan kandaure dari Toraja, melilitkan pending dari Timor serta ornamen lainnya.

dsc01086
Salah satu peserta yang memakai kain adat dari Amarasi (laki-laki)

Selain menampilkan perpaduan ornamen daerah, para peserta juga harus percaya diri ketika memeragakan busana yang dipakainya, juga menjawab pertanyaan yang diajukan juri dengan jelas dan lancar. Sebelum menjawab pertanyaan, peserta lebih dahulu mengenalkan apa nama ornamen dan berasal dari daerah manakah ornamen tersebut.

Hari Sabtu (13/11), telah dikeluarkan pengumuman hasil penjurian lomba costplay. Di antara 10 peserta tersebut, diambil enam (6) peserta terbaik yang akan tampil di puncak acara bulan bahasa hari Kamis mendatang. Menurut salah satu juri lomba costplay, diharapkan di acara puncak nanti, para nomine tersebut harus tampil lebih baik dari yang sebelumnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak dinyana, ternyata di balik kesibukan menggeluti kuliah agar nantinya menjadi seorang guru Kristen yang profesional, para mahasiswa TC juga memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang seni dan komunikasi. Hal ini terlihat dari kekreatifan mereka menggarap ide untuk menggambar, musikalisasi puisi, mengolah vokal, mencipta pantun, berdebat, menampilkan gerakan indah, dan yang mengaggumkan, mereka pun dapat merancang busana dan ornamen daerah, memadukannya serta memeragakannya. Inilah talenta yang dipercayakan Tuhan dan mahasiswa TC telah menggunakannya dengan bertanggung jawab.

dsc01129Puncak acara bulan bahasa yang akan diadakan hari Kamis 18 November, menurut Intan, tak akan kalah meriahnya. Acara tersebut akan berlangsung siang hari, yakni pada pukul 11.30 WIB sampai pukul 13.30 WIB. Intan menambahkan, saat ini para mahasiswa yang terlibat dalam puncak acara tersebut sangat intens dalam mengikuti latihan, di antaranya menari, choir dan teater. Selain itu, para peserta costplay, lip sync dan musikalisasi puisi, yang berhasil sebagai nomine pun akan memeriahkan acara istimewa tersebut dengan menunjukan kebolehan mereka.

Rencananya, pada hari Kamis nanti, akan didirikan juga stan-stan daerah dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, berlokasi di area kampus UPH tepatnya di plaza gedung D. Stan-stan tersebut mengenalkan kekhasan dan keunikan budaya tiap daerah di Indonesia, meliputi pakaian, makanan khas, musik, miniatur objek wisata, dan yang lainnya.

Dalam mempersiapkan puncak acara bulan bahasa 2010, para panitia telah bekerja dengan baik, membagikan selebaran kepada mahasiswa UPH, juga memasang spanduk di area kampus. Para dosen dan staf dari TC pun tidak tinggal diam. Mereka juga memberikan undangan kepada rekan dosen dan staf dari fakultas lain di UPH. Hal ini agar semua warga UPH turut menyaksikan acara bulan bahasa 2010 yang diselenggarakan Teachers College. (AT)

*Juara 1 Lomba Jurnalistik pada kegiatan Bulan Bahasa Teachers College UPH tahun 2010